Risk Appetite dan Risk Aversion seringkali kita dengar dalam berbagai berita pasar yang berkaitan dengan perdagangan di bursa. Risk appetite dapat diartikan sebagai kondisi dimana para investor berkeinginan atau memiliki minat untuk mengambil resiko dalam tujuan untuk berinvestasi dan tentu saja dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan.

Risk Appetite berlangsung dalam kondisi dimana perekonomian sebuah negara dalam keadaan Green yaitu momentum ekonomi yang sedang tumbuh dan berkembang. Pada kondisi ekonomi yang bagus investor akan secara agresif meletakkan uangnya dalam beberapa portofolio baik itu bursa saham, komoditas, uang atau pun lainnya.

Sedangkan Risk Aversion adalah momentum atau keadaan dimana kondisi perekonomian sebuah negara dalam keadaan krisis dimana pada keadaan tersebut investor cenderung untuk menghindari resiko dalam berinvestasi. Dalam keadaan Risk Aversion maka investor cenderung untuk berhati-hati dalam meletakkan portofolio investasinya dan biasanya investor cenderung untuk menyimpan kekayaan dan aset yang dimiliki dalam bentuk Safe Heavenyaitu julukan untuk emas sebagai komoditi pengaman kekayaan saat terjadinya masa krisis. Kondisi Risk Aversion pun ditandai dengan menguatnya Dollar Amerika secara signifikan karena para investor tidak akan berani menanamkan uang mereka di Bursa Saham dan cenderung lebih memilih untuk menyimpan asetnya dalam bentuk Dollar Amerika atau Emas. Kejadian Risk Aversion pernah terjadi saat krisis Global tahun 2008.